Tafsir As-Saadi - Indonesian

Multiple Ayahs

Tags

Download Links

Tafsir As-Saadi - Indonesian tafsir for Surah Al-Qalam — Ayah 49

فَذَرۡنِي وَمَن يُكَذِّبُ بِهَٰذَا ٱلۡحَدِيثِۖ سَنَسۡتَدۡرِجُهُم مِّنۡ حَيۡثُ لَا يَعۡلَمُونَ ٤٤ وَأُمۡلِي لَهُمۡۚ إِنَّ كَيۡدِي مَتِينٌ ٤٥ أَمۡ تَسۡـَٔلُهُمۡ أَجۡرٗا فَهُم مِّن مَّغۡرَمٖ مُّثۡقَلُونَ ٤٦ أَمۡ عِندَهُمُ ٱلۡغَيۡبُ فَهُمۡ يَكۡتُبُونَ ٤٧ فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُن كَصَاحِبِ ٱلۡحُوتِ إِذۡ نَادَىٰ وَهُوَ مَكۡظُومٞ ٤٨ لَّوۡلَآ أَن تَدَٰرَكَهُۥ نِعۡمَةٞ مِّن رَّبِّهِۦ لَنُبِذَ بِٱلۡعَرَآءِ وَهُوَ مَذۡمُومٞ ٤٩ فَٱجۡتَبَٰهُ رَبُّهُۥ فَجَعَلَهُۥ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ٥٠ وَإِن يَكَادُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَيُزۡلِقُونَكَ بِأَبۡصَٰرِهِمۡ لَمَّا سَمِعُواْ ٱلذِّكۡرَ وَيَقُولُونَ إِنَّهُۥ لَمَجۡنُونٞ ٥١ وَمَا هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ٥٢

"Maka serahkanlah (wahai Muhammad) kepadaKu (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (al-Qur`an). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui. Dan Aku mem-beri tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencanaKu amat teguh. Ataukah kamu meminta upah kepada mereka, lalu mereka diberati dengan hutang? Ataukah ada pada mereka ilmu tentang yang ghaib lalu mereka menulis (padanya apa yang mereka tetap-kan)? Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap kete-tapan Rabbmu, dan janganlah kamu seperti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam ke-adaan marah (kepada kaumnya). Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Rabbnya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela. Lalu Rabbnya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang shalih. Dan sungguh orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar al-Qur`an dan mereka berkata, 'Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila.' Dan al-Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat." (Al-Qalam: 44-52).

(44-45) Maksudnya, serahkanlah kepadaKu urusan orang-orang yang mendustakan al-Qur`an yang agung, Aku-lah yang akan membalas mereka dan jangan kau minta siksaan mereka disegerakan, Kami akan menarik mereka secara berangsur-angsur (menuju kebinasaan), ﴾ مِّنۡ حَيۡثُ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "dari arah yang tidak mereka ketahui." Kami memberi keleluasaan mereka dengan harta dan anak. Kami memberi keleluasaan mereka dalam rizki dan pekerjaan, agar mereka terpedaya dan tetap berada di atas apa yang memudarat-kan mereka. Ini adalah balasan tipu daya Allah سبحانه وتعالى atas mereka dan balasan tipu daya Allah سبحانه وتعالى pada musuh-musuhNya amat kokoh dan kuat. Dampak berbahaya dan siksaan mereka akan benar-benar sampai pada mereka.
(46) ﴾ أَمۡ تَسۡـَٔلُهُمۡ أَجۡرٗا فَهُم مِّن مَّغۡرَمٖ مُّثۡقَلُونَ ﴿ "Ataukah kamu meminta upah kepada mereka, lalu mereka diberati dengan hutang?" Maksudnya, tidak ada sebab yang membuat mereka lari darimu dan tidak membenar-kanmu yang mengharuskan mereka melakukan hal itu. Engkau hanyalah mengajarkan dan menyeru mereka menuju Allah سبحانه وتعالى murni karena kepentingan mereka sendiri, tanpa kau mintai upah yang membuat mereka terbebani hutang.
(47) ﴾ أَمۡ عِندَهُمُ ٱلۡغَيۡبُ فَهُمۡ يَكۡتُبُونَ ﴿ "Ataukah ada pada mereka ilmu ten-tang yang ghaib lalu mereka menulis (padanya apa yang mereka tetapkan)." Hal-hal ghaib yang ada pada mereka dan mereka menemukan tulisan dalam ilmu ghaib itu yang menyatakan bahwa mereka berada di atas kebenaran dan mereka memiliki pahala di sisi Allah سبحانه وتعالى. Ini adalah sesuatu yang mustahil adanya. Kondisi mereka tidak lain hanyalah orang yang membangkang dan zhalim.
(48-50) Yang tersisa hanya (engkau Muhammad) bersikap sabar atas gangguan mereka dan menahan diri dari perkataan dan tindakan yang mereka lakukan, serta tetap terus menyeru mereka. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ ﴿ "Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Rabbmu," terhadap keputusan, baik syariat maupun takdir yang telah ditentukan. Keputusan tak-dir harus disikapi secara sabar atas segala sesuatu yang menyakiti, bukan dihadapi dengan kemarahan dan kesedihan. Sedangkan ketetapan syariat diterima dan ditaati secara sempurna, karena itu adalah perintah Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَا تَكُن كَصَاحِبِ ٱلۡحُوتِ ﴿ "Dan janganlah kamu se-perti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan," yaitu Nabi Yunus bin Matta عليه السلام. Maksudnya, jangan menyamainya dalam kondisi yang membuatnya tertahan dalam perut ikan, yaitu karena menyi-kapi kaumnya dengan kesabaran yang semestinya serta sikapnya yang meninggalkan kaumnya yang membuat Rabbnya marah. Sampai ketika Yunus naik perahu, kemudian para penumpangnya mengadakan pengundian, karena terlalu beratnya beban siapa di antara mereka yang dibuang ke laut agar beban yang ada di perahu agak ringan. Undian jatuh pada Yunus kemudian beliau dilempar ke laut dan ditelan ikan dalam kondisi mencela diri. Allah سبحانه وتعالى ber-firman, ﴾ إِذۡ نَادَىٰ وَهُوَ مَكۡظُومٞ ﴿ "Ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya)." Maksudnya, ketika ia berada di dalam perut ikan dan tertahan di dalamnya, atau ia berdoa dalam kondisi ber-duka dan sedih seraya berkata, ﴾ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Engkau, Maha-suci Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim." (Al-Anbiya`: 87). Lalu Allah سبحانه وتعالى mengabulkan doanya. Ikan yang menelannya kemudian memuntahkannya di tanah tandus dan Yunus dalam keadaan sakit. Allah سبحانه وتعالى menumbuhkan tanaman untuknya sejenis labu. Karena itu dalam surat ini Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَّوۡلَآ أَن تَدَٰرَكَهُۥ نِعۡمَةٞ مِّن رَّبِّهِۦ لَنُبِذَ بِٱلۡعَرَآءِ ﴿ "Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Rabb-nya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus," maksudnya, tentu akan dilemparkan ke tanah kering kerontang, ﴾ وَهُوَ مَذۡمُومٞ ﴿ "dalam keadaan tercela." Tapi Allah سبحانه وتعالى meliputinya dengan rahmat, Yunus pun dilemparkan dalam keadaan terpuji sehingga kondisinya lebih baik dari sebelumnya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱجۡتَبَٰهُ رَبُّهُۥ ﴿ "Lalu Rabbnya memilihnya," yakni, Allah سبحانه وتعالى memilihnya dan menyu-cikannya dari segala kotoran, ﴾ فَجَعَلَهُۥ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "dan menjadikannya ter-masuk orang-orang yang shalih," yakni, orang-orang yang perbuatan, perkataan, niat, dan kondisinya baik.
(51-52) Nabi kita, Muhammad a melaksanakan perintah Rabbnya dan bersabar atas ketetapanNya dengan kesabaran yang tidak bisa ditandingi oleh seorang pun dari seluruh alam. Allah سبحانه وتعالى memberikan akibat baik bagi beliau dan juga untuk orang-orang yang bertakwa. Para musuh Nabi Muhammad a tidak berbuat apa pun selain yang mencelakai mereka sendiri, hingga (sampai pada tahap) mereka amat menginginkan untuk menggelincirkan-mu, ﴾ بِأَبۡصَٰرِهِمۡ ﴿ "dengan pandangan mereka." Maksudnya, mencederai-mu dengan pandangan-pandangan mereka, berupa sikap hasad, dengki, dan marah. Inilah puncak gangguan berupa tindakan yang mereka lakukan, tapi Allah سبحانه وتعالى menjaga dan menolongnya. Adapun gangguan berupa perkataan, mereka mengatakan apa saja tentang Muhammad a sesuai kehendak hati mereka. Sesekali mereka menyebut Muhammad a penyair dan sesekali mereka menyebut Muhammad a penyihir. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan al-Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat." Mak-sudnya, al-Qur`an agung dan peringatan bijak ini tidak lain hanya-lah merupakan peringatan untuk seluruh alam. Mereka menjadi-kannya sebagai peringatan demi kebaikan dunia dan agama mereka. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.