Tafsir As-Saadi - Indonesian

Multiple Ayahs

Tags

Download Links

Tafsir As-Saadi - Indonesian tafsir for Surah At-Takwir — Ayah 19

فَلَآ أُقۡسِمُ بِٱلۡخُنَّسِ ١٥ ٱلۡجَوَارِ ٱلۡكُنَّسِ ١٦ وَٱلَّيۡلِ إِذَا عَسۡعَسَ ١٧ وَٱلصُّبۡحِ إِذَا تَنَفَّسَ ١٨ إِنَّهُۥ لَقَوۡلُ رَسُولٖ كَرِيمٖ ١٩ ذِي قُوَّةٍ عِندَ ذِي ٱلۡعَرۡشِ مَكِينٖ ٢٠ مُّطَاعٖ ثَمَّ أَمِينٖ ٢١ وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجۡنُونٖ ٢٢ وَلَقَدۡ رَءَاهُ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡمُبِينِ ٢٣ وَمَا هُوَ عَلَى ٱلۡغَيۡبِ بِضَنِينٖ ٢٤ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٖ ٢٥ فَأَيۡنَ تَذۡهَبُونَ ٢٦ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ٢٧ لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَسۡتَقِيمَ ٢٨ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٢٩

"Sungguh, aku bersumpah dengan bintang-bintang, yang ber-edar dan terbenam, demi malam apabila telah hampir meninggal-kan gelapnya, dan demi Shubuh apabila fajarnya mulai menying-sing, sesungguhnya al-Qur`an itu benar-benar Firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah orang yang gila. Dan sungguh Muhammad itu pernah melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan Dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib. Dan al-Qur`an itu bukanlah per-kataan setan yang terkutuk, maka kemanakah kamu akan pergi? Al-Qur`an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam." (At-Takwir: 15-29).

(15-16) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan ﴾ ا َ ل ْ خ ُ ن ّ َ س ﴿ "bintang-bin-tang," yakni bintang-bintang yang berjalan terlambat dari lintasan biasanya hingga ke arah timur. Itulah tujuh bintang yang berjalan; matahari, rembulan, venus, yupiter, mars, saturnus, dan merkurius. Ketujuh bintang ini memiliki dua putaran: Putaran ke arah barat bersama bintang-bintang lain, dan lalu berputar dari arah berla-wanan dari arah timur yang hanya ditempuh oleh ketujuh bintang tersebut saja. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengannya pada saat terlambat melintas dan pada saat melintas serta di saat sinarnya terhalang di waktu siang. Bisa juga yang dimaksudkan adalah seluruh bintang yang beredar dan lainnya.
(17-18) ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا عَسۡعَسَ ﴿ "Dan demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya," ada yang berpendapat apabila datang, dan ada juga yang berpendapat apabila pergi. ﴾ وَٱلصُّبۡحِ إِذَا تَنَفَّسَ ﴿ "Dan demi Shubuh apabila fajarnya mulai menyingsing," yakni nampak tanda-tanda Shubuh kemudian cahaya muncul sedikit demi sedikit hingga sempurna dan matahari terbit.
(19) Tanda-tanda kebesaran ini disumpahkan Allah سبحانه وتعالى karena kuatnya sanad al-Qur`an, keluhurannya, dan terjaga dari setiap setan yang terkutuk. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ لَقَوۡلُ رَسُولٖ كَرِيمٖ ﴿ "Se-sungguhnya al-Qur`an itu benar-benar Firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia," yaitu Jibril 5 yang turun membawanya dari Allah سبحانه وتعالى, seperti disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ وَإِنَّهُۥ لَتَنزِيلُ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 192 نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلۡأَمِينُ 193 عَلَىٰ قَلۡبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلۡمُنذِرِينَ 194 ﴿ "Dan sesungguhnya al-Qur`an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, ia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan." (Asy-Syu'ara`: 192-194). Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifatnya yang mulia karena mulianya akhlak dan banyaknya sifat-sifat terpuji. Jibril adalah malaikat paling utama dan paling tinggi derajatnya di sisi Allah.
(20) ﴾ ذِي قُوَّةٍ ﴿ "Yang mempunyai kekuatan" atas apa yang di-perintahkan Allah سبحانه وتعالى padanya. Di antara kekuatannya adalah ia mampu membalikkan negeri kaum Luth dan membinasakan me-reka, ﴾ عِندَ ذِي ٱلۡعَرۡشِ مَكِينٖ ﴿ "yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy." Artinya, Jibril adalah malaikat yang dekat dengan Allah سبحانه وتعالى, ia memiliki derajat tinggi dan istimewa dari Allah سبحانه وتعالى yang dikhususkan padanya. Jibril memiliki kedudukan dan de-rajat di atas kedudukan seluruh malaikat.
(21) ﴾ مُّطَاعٖ ثَمَّ ﴿ "Yang ditaati di sana (di alam malaikat)," artinya, Jibril adalah malaikat yang ditaati dalam komunitas malaikat, ka-rena Jibril termasuk di antara malaikat yang dekat dengan Allah, perintahnya dilaksanakan dalam golongan mereka, pandangannya ditaati, ﴾ أَمِينٖ ﴿ "lagi dipercaya," yakni mempunyai sifat dan sikap amanah dan melakukan apa yang diperintahkan, tidak kurang dan tidak lebih, dan tidak menerjang batasan yang telah ditentukan baginya. Semua itu menunjukkan mulianya al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى, karena Dia menurunkan al-Qur`an melalui perantara malaikat mulia yang memiliki sifat-sifat sempurna tersebut. Biasanya, para raja hanya mengirim utusan paling mulia dalam urusan-urusan penting dan untuk mengirim surat-surat mulia.
(22) Ketika Allah سبحانه وتعالى menyebutkan keutamaan utusan dari kalangan malaikat yang datang membawa al-Qur`an, Allah سبحانه وتعالى me-nyebutkan keutamaan utusan dari kalangan manusia yang diberi al-Qur`an seraya berfirman, ﴾ وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجۡنُونٖ ﴿ "Dan temanmu (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah orang yang gila," seperti yang diucapkan para musuhnya yang mendustakan risalahnya dan yang mengatakan ucapan-ucapan dengan tujuan ingin memadamkan risalah yang dibawa. Muhammad adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling lurus pendapatnya, dan paling jujur tuturnya.
(23) ﴾ وَلَقَدۡ رَءَاهُ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡمُبِينِ ﴿ "Dan sungguh Muhammad itu pernah melihat Jibril di ufuk yang terang," yakni Muhammad a bukanlah se-orang yang tertuduh menambahi, mengurangi, atau menyembunyi-kan sebagian yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى padanya, tapi Muhammad a adalah orang yang paling terpercaya dari kalangan penduduk bumi dan langit yang menyampaikan risalah Rabbnya dengan nyata, sama sekali tidak bersifat bakhil pada orang kaya, orang miskin, pemimpin, rakyat, orang lelaki, perempuan, orang kota, orang desa, dan lainnya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mengutus beliau di tengah-tengah kaum yang tidak bisa membaca dan menulis lagi bodoh. Dan belumlah Nabi Muhammad a meninggal dunia, tapi mereka semua telah menjadi ulama-ulama rabbani dan ilmuan-ilmuan yang memiliki pikiran tajam. Puncak segala ilmu berakhir pada mereka, mereka adalah para guru sedangkan lainnya paling tinggi hanyalah murid-murid mereka.
(25) ﴾ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٖ ﴿ "Dan al-Qur`an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk." Pada saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kemuliaan KitabNya dan karuniaNya dengan menyebutkan dua utusan mulia yang sampai pada manusia melalui tangan mereka berdua, Allah سبحانه وتعالى memuji-muji keduanya dan menghilangkan berbagai kekurangan yang menodai kejujurannya seraya berfirman, ﴾ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٖ ﴿ "Dan al-Qur`an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk," yakni setan itu amat jauh dari Allah سبحانه وتعالى dan jauh dari (status) kedekatan terhadapNya.
(26) ﴾ فَأَيۡنَ تَذۡهَبُونَ ﴿ "Maka kemanakah kamu akan pergi," yakni, ba-gaimanakah hal ini terlintas di benak kalian. Kemanakah hilangnya akal kalian hingga kalian menjadikan kebenaran yang merupakan tingkat kejujuran tertinggi sebagai kedustaan yang merupakan tingkat kebatilan terendah? Ini tidak lain kecuali karena memutar-balikkan kebenaran.
(27) ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Al-Qur`an itu tiada lain hanyalah peri-ngatan bagi semesta alam." Dengan al-Qur`an mereka ingat Rabb mereka, sifat-sifat sempurnaNya serta terhindarNya Dia dari ber-bagai kekurangan, kehinaan, dan keserupaan. Mereka juga ingat akan perintah-perintah dan larangan-larangan serta hikmahnya. Dengan al-Qur`an, mereka ingat hukum-hukum takdir, hukum-hukum syariat, dan hukum-hukum balasan. Secara garis besar, al-Qur`an mengingatkan mereka pada kepentingan dunia akhirat, dan dengan mengamalkannya, mereka mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
(28) ﴾ لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَسۡتَقِيمَ ﴿ "(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus," setelah jelas antara petunjuk dan kesesatan.
(29) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan kamu tidak dapat meng-hendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam," yakni, kehendak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana, tidak mungkin dicegah dan dihalangi. Dalam ayat ini dan ayat-ayat serupa terdapat bantahan untuk golongan yang menafikan takdir dan golongan yang menyatakan bahwa manusia dipaksa melaku-kan segala sesuatu sebagaimana contohnya telah djelaskan sebe-lumnya. Wallahu a'lam. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.