Allah -Subḥānahu- juga membuat perumpamaan lain untuk membantah orang-orang musyrikin, yaitu tentang dua laki-laki. Salah satunya ialah bisu, ia tidak bisa mendengar, tidak bisa berbicara, dan tidak bisa mengerti lantaran ketulian dan kebisuannya. Ia tidak bisa mendatangkan manfaat untuk dirinya sendiri apalagi untuk orang lain dan ia hanya menjadi beban yang memberatkan orang lain yang mengurusinya. Bila orang yang mengurusinya mengutusnya untuk satu kepentingan maka dia kembali tanpa membawa kebaikan apa pun dan tidak menunaikan hajat yang harus ditunaikan. Apakah orang yang keadaannya demikian ini sama dengan orang yang bisa mendengar dan berbicara, bisa memberi manfaat kepada orang lain, dia bisa mengajak manusia kepada keadilan, dia orang yang jujur dengan dirinya, serta berjalan di atas jalan yang terang tidak ada kebengkokan padanya?! Bagaimana bisa kalian -wahai orang-orang musyrikin- menyamakan Allah, Sang Pemilik sifat-sifat keagungan dan kesempurnaan dengan berhala-berhala kalian yang tidak mendengar dan tidak berbicara, tidak mendatangkan manfaat dan tidak mengangkat mudarat?!