You are reading tafsir of 3 ayahs: 39:64
to 39:66.
"Katakanlah, 'Maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang jahil (bodoh)?' Dan sesungguh-nya telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum-mu: Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan terhapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja yang kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur." (Az-Zumar: 64-66).
(64) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" wahai rasul, kepada orang-orang bodoh itu, yaitu orang-orang yang mengajakmu menyembah selain Allah, ﴾ أَفَغَيۡرَ ٱللَّهِ تَأۡمُرُوٓنِّيٓ أَعۡبُدُ أَيُّهَا ٱلۡجَٰهِلُونَ ﴿ "Maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang jahil (bodoh)." Maksud-nya, perintah ini bersumber dari kebodohan kalian. Kalau tidak, maka kalau sekiranya kalian mempunyai ilmu pengetahuan bah-wasanya Allah سبحانه وتعالى Yang Mahasempurna dari segala sisiNya, yang melimpahkan seluruh kenikmatan adalah yang berhak diibadahi, bukan selainNya yang lemah dari segala sisinya, tidak dapat mem-berikan manfaat ataupun menimpakan mudarat; lalu kenapa kalian menyuruhku melakukan hal itu? Padahal sesungguhnya kesyirikan (mempersekutukan Allah) itu dapat menghapus semua amal-amal kebaikan dan merusak semua keadaan.
(65) Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ أُوحِيَ إِلَيۡكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكَ ﴿ "Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu," dari seluruh nabi-nabi, ﴾ لَئِنۡ أَشۡرَكۡتَ لَيَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ ﴿ "Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan terhapus amalmu." Ini ada-lah kata mufrad (tunggal) yang di-idhafah-kan yang berarti mencakup setiap amal perbuatan. Jadi, di dalam kenabian seluruh nabi-nabi (diajarkan bahwa) syirik itu menghapus seluruh amal-amal shalih, sebagaimana dikatakan oleh Allah سبحانه وتعالى di dalam Surat al-An'am setelah Dia menyebutkan banyak nabi-nabi dan Rasul-rasulNya, Dia berfirman mengenai mereka, ﴾ ذَٰلِكَ هُدَى ٱللَّهِ يَهۡدِي بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۚ وَلَوۡ أَشۡرَكُواْ لَحَبِطَ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 88 ﴿ "Itulah petunjuk Allah yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. Seandai-nya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." (Al-An'am: 88). ﴾ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "Dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi" untuk agama dan akhiratmu. Jadi disebabkan syirik, amal-amal kebajikan dihapuskan dan dipastikan berhak mendapat siksaan dan hukuman.
(66) Kemudian Dia berfirman, ﴾ بَلِ ٱللَّهَ فَٱعۡبُدۡ ﴿ "Karena itu, maka hendaklah Allah saja yang kamu sembah." Setelah Allah memberitahu bahwa orang-orang yang jahil (bodoh) itu memerintah beliau untuk melakukan syirik dan Allah mengabarkan kekejian syirik, maka Dia memerintahnya untuk ikhlas (bertauhid), seraya berfirman, ﴾ بَلِ ٱللَّهَ فَٱعۡبُدۡ ﴿ "Karena itu, maka hendaklah Allah saja yang kamu sembah." Maksudnya, murnikanlah ibadah hanya kepadaNya saja, tiada se-kutu bagiNya, ﴾ وَكُن مِّنَ ٱلشَّٰكِرِينَ ﴿ "dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur" kepada Allah atas taufikNya. Sebagaimana Allah سبحانه وتعالى disyukuri atas segala nikmat duniawi, seperti kesehatan tubuh dan keselamatannya, perolehan rizki dan lain-lainnya, maka demikian pula Dia disyukuri dan dipuji atas nikmat-nikmat AgamaNya seperti taufik (bimbingan) kepada keikhlasan dan takwa. Bahkan nikmat agama adalah nikmat yang sesungguhnya dan bila direnungkan, maka ia sesungguhnya ber-asal dari Allah سبحانه وتعالى. Bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat ter-sebut merupakan penyelamatan (diri) dari sifat ujub (bangga diri) yang sering menghampiri (hati) orang-orang yang beramal disebab-kan kebodohan mereka. Kalau tidak, sekiranya saja sang hamba mengetahui keadaan yang sebenarnya, tentu ia tidak akan ber-bangga diri oleh nikmat yang sebenarnya harus lebih disyukuri.